Foto: ahmad/beritajakarta.com

Tak lama lagi warga Jakarta Utara dapat menikmati indahnya Taman Bersih, Manusiawi, dan Berwibawa (Taman BMW) di Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kawasan yang semula kumuh dan padat penduduk itu, saat ini telah bersih dari pemukim liar. Ya, sebanyak 1.112 bangunan liar yang menempati Taman BMW dibuldozer, Minggu (21/8) pagi.

Penertiban tersebut berlangsung bentrok. Sekitar 914 Kepala Keluarga (KK) yang tidak menerima bangunan mereka dibongkar berusaha melawan. Mereka menghadang petugas dengan membakar ban bekas. Tak hanya itu, mereka juga melempari batu dan patahan batako kepada petugas, situasi pun tegang dan terlihat ricuh.

Tak mau kalah, dengan tetap merapatkan barisan, sekitar 5.000 aparat gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) DKI Jakarta dan satuan brigade mobil (Brimob) Polda Metro Jaya, terus merangsek ke pemukiman. Akhirnya, kurang dari satu jam petugas bisa menguasai lokasi dan penertiban pun berjalan sesuai rencana.

Dalam penertiban tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara mengerahkan 10 alat berat dan 20 truk untuk mengangkut barang-barang milik warga. Sebelum merobohkan bangunan-bangunan liar, sejumlah aparat Satpol PP juga turut membantu warga mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah. Ketika isi rumah sudah dipastikan kosong, satu per satu rumah warga dirobohkan dengan menggunakan bekho.

Effendi Anas, Walikota Jakarta Utara, mengatakan, penertiban ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi Taman BMW sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dengan membangunan sejumlah sarana fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos dan fasum) lainnya. Tak hanya itu, di lahan seluas 26 hektar ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana akan membangun stadion olahraga bertaraf Internasional. “Selain itu, rencananya juga akan dibangun stadion olahraga bertaraf nasional dan internasional,” kata Effendi Anas, di sela-sela penertiban, Minggu (24/8).

Sejatinya, kata Effendi Anas, penertiban paksa ini tidak perlu dilakukan, apabila warga bersedia pindah secara swadaya. Sebab, sebelumnya Pemkot Jakarta Utara sudah mengeluarkan surat peringatan kepada warga yang tinggal di Taman BMW ini. “Jadi jangan salahkan pemerintah. Warga sudah sering kita peringatkan, kita sudah berikan surat peringatan (Surat Perintah Bongkar-red) tiga kali, yang terakhir kita berikan pada tanggal 21 Agustus kemarin. Tapi, warga tetap saja tidak melaksanakan imbauan kita,” ujarnya.

Mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) DKI Jakarta itu juga menegaskan tidak akan memberikan uang kerohiman kepada para warga korban penggusuran. Meski demikian, Pemkot Jakarta Utara bersedia membantu warga korban penggusuran memindahkan barang-barangnya dengan menggunakan mobil secara gratis. “Silakan saja, jika ada warga yang minta bantuan untuk mengangkut barang-barangnya kami sudah menyiapkan puluhan truk untuk mengevakuasi barang-barang milik warga,” ungkapnya.

Mengingat luasnya area dan banyaknya jumlah bangunan, Harianto Bajoeri, Kepala Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) DKI Jakarta, mengatakan, pembongkaran tidak selesai dalam sehari. Maka, pembongkaran akan dilanjutkan esok hari. Tentunya, akan terus dijaga oleh aparat Satpol PP. “Mudah-mudahan satu hari ini bisa selesai, tetapi kalau tidak, besok akan kita lanjutkan kembali,” ungkapnya.

Dari pantaun beritajakarta.com, akibat ramainya petugas, wartawan dan juga warga yang akan melihat penertiban tersebut, ruas Jl RE Martadinata maupun Jl Ancol Baru, macet. Karena itu, arus lalu lintas yang mengarah ke dua jalan tersebut, dialihkan ke Jl RE Martadinata Baru tepatnya di bawah Jl Tol Ancol-Bandara Soekarno-Hatta.

Usai perlawanan warga gagal, ratusan warga pun lunglai pasrah. Mereka hanya bisa menatap bangunan yang telah mereka bangun dengan jerih payah dibongkar petugas. Mereka bergerombol di sejumlah tempat antara lain, dibantaran rel kereta api, trotoar jalan, dan di taman depan Pengadilan Negeri Jakarta Utara. “Untuk sementara kita bertahan dulu di sini mas. Kita nggak tau mau tinggal di mana,” tutur Saodah, 34. Karena itu, Saodah berharap dapat memperhatikan nasibnya. Sehingga, ke depan ia tidak telantar. Minimal, kata Saodah, Pemkot Jakarta Utara memberikan uang kerohiman. “Kita maunya dapat ganti rugi, jadi bisa buat sewa rumah, kalau nggak, terpaksa kita akan tidur di pingir jalan,” ucap Saodah, melas.

Penulis: ahmad

Sumber: ahmad